Prahara di Negeri Fapsi

Monday, September 19, 2005

OSPEK, MASIH PERLU ATAU TIDAK? oleh SATRIO

OSPEK, MASIH PERLU ATAU TIDAK?
oleh
SATRIO

Pernah berpikir kenapa negara ini sepertinya tidak maju-maju? Kita sudah merdeka selama 60 tahun. Tapi rasanya negara kita ini sudah tersusul perkembangannya dibanding negara lain yang baru saja merdeka. Lebih parah, rasanya bangsa kita ini malah jalan mundur. Dari negeri yang terkenal penuh kekayaan alam dan ramah, sekarang menjadi negeri pengekspor pembantu dan dituduh teroris. Sekarang, masalah Indonesia semakin pelik saja.
Tanya kenapa. Kenapa negeri kita keadaannya seperti ini? Kita yang mahasiswa ini adalah salah satu harapan untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut dan memberikan solusinya. Mahasiswa adalah kaum cendekia. Sudah seharusnya mereka mampu memberikan sumbangan besar bagi negara.
Banyak para cendekia yang berpendapat bahwa permasalahan suatu bangsa terletak pada sumber daya manusianya. Kekayaan alam yang melimpah tidak akan memajukan bangsa kalau para rakyatnya tidak tahu cara mengolahnya. Nah, permasalahan sumber daya manusia ini terkait erat dengan pendidikan. Pendidikan adalah kunci untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Jepang yang dibom pada tahun yang sama dengan kemerdekaan kita bisa bangkit lebih dulu. Kalau dipikir, masalah Jepang pelik juga karena mereka selalu berurusan dengan bencana alam. Tapi Jepang kini telah mendunia. Dan kita tahu bahwa itu karena dunia pendidikan di Jepang sangat maju.
Tanyalah kenapa. Ada apa dengan dunia pendidikan Indonesia? Kita kaum cendekia adalah sumber daya manusia yang seharusnya mampu menjawab pertanyaan itu. Apa sebenarnya masalah pada manusia-manusia Indonesia? Kurang pintarkah? Kurang kreatif? Bodoh-bodoh? Pemalas? Tidak punya keberanian?
Kita tengok negara tetangga kita Malaysia. Konon, negri jiran ini banyak menitipkan kaum pelajarnya di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Mereka menuntut ilmu di negeri-negeri yang menurutnya maju. Selesai kuliah, semua mahasiswa diminta kembali ke Malaysia untuk membangun bangsanya. Salah satu tokoh penting negri jiran itu pernah berkata kepada para profesor dari Indonesia: “sepuluh tahun ke depan, mahasiswa kami akan menjadi bos bagi mahasiswa dari Indonesia”. Dan ternyata benar. Banyak perusahaan yang dipimpin oleh orang Malaysia. Orang Indonesia hanya jadi pegawai. Di tanah Malaysia sendiri, bangsa kita malah dijadikan pembantu. Mungkin nanti kita setelah lulus kuliah juga akan begitu.
Tanyalah kenapa. Apa sebenarnya kunci keberhasilan orang Malaysia? Kita sama sama dari rumpun melayu, tapi kok mereka bisa lebih pintar? Setelah melakukan studi banding perguruan tinggi dua negara ini, ada perbedaan mencolok. Di Malaysia, tidak ada perploncoan. Puluhan tahun yang lalu, Anwar Ibrahim bersama para mahasiswa telah melakukan gerakan nasional untuk memberantas perploncoan dan sukses. Apakah memang karena perploncoan mahasiswa kita menjadi mandul? Banyak yang percaya bahwa memang itu jawabannya.
Dalam perploncoan, mahasiswa baru diajarkan untuk takut dan patuh pada penguasa atau pada hal-hal yang dianggapnya lebih besar dari dirinya. Perploncoan sebetulnya membuat para mahasiswa menjadi pasrah pada keadaan. Alih-alih panitia mengatakan semua perlakuan buruk pada mahasiswa baru adalah untuk memperkuat mental mahasiswa. Mental mahasiswa memang menjadi kuat, yaitu untuk menahan diri untuk tidak bereaksi pada hal-hal yang merugikan dirinya sendiri. Jadi, kalau nanti dia menghadapi penindasan di dunia nyata, mahasiswa sudah pintar untuk menjadi pasrah dan berkata bahwa “ini semua pasti ada manfaatnya”. Ada lagi yang bilang perlakuan buruk ditujukan untuk membangun mental mahasiswa. Tapi, karena semua perlakuan buruk itu hanya pura-pura dan sebatas andai-andai (simulasi), mental mahasiswa malah jadi melempem. Kenapa? Karena seiring dengan hilangnya perlakuan buruk tersebut, hilang juga keberanian mahasiswa untuk melawan. Sebetulnya yang paling berbahaya adalah para mahasiswa menjadi tidak peka pada suara hati sendiri. Kita mahasiswa dituntut untuk menjadi pemimpin. Tapi siapa yang mau mendengarkan perkataan kita kalau kita tidak mendengarkan kata hati kita sendiri? Atas tekanan sosial, mahasiswa dipaksa untuk tidak mendengarkan hati mereka yang sakit demi penggemblengan mental tersebut. Dalam hati, banyak yang tidak menerima perlakuan buruk, tetapi mahasiswa baru diajarkan untuk menerima perlakuan tersebut karena tidak ingin disebut “cengeng” atau “anak mami”. Hasilnya? Mahasiswa terbiasa untuk menolerir perlakuan buruk sekecil apa pun dan berpikir bahwa itu hanya sementara atau sesuatu yang akan membuat mereka lebih kuat kalau mereka tidak bereaksi terhadapnya. Mahasiswa jadi terima-terima saja kalau dia ditindas. Bukannya berpikir keras untuk melawan penindasan, mahasiswa malah pasrah saja. Selama OSPEK, mereka sudah dibangun rasa takutnya pada penguasa (seperti Tatib dan Senior) dan sudah terbiasa pasrah pada perlakuan buruk mereka. Lama kelamaan, mahasiswa akan berpikir bahwa perasaan tidak enak dalam hati mereka dan keinginan untuk melawan adalah karena mereka terlalu kritis. Kalau mereka tidak kritis, tentu mereka tidak akan merasa tidak enak hati atau memilki pemikiran untuk melawan. OSPEK yang niatannya membuat mahasiswa kritis justru berpeluang membunuh daya kritis. Dan penguasa pun melenggang tenang.
Ada faktor lain yang membuat mahasiswa kita kurang kritis, kurang agresif dalam berpikir keras dan kurang ingin menjadi cerdas. Yaitu keinginan untuk mendapatkan kenyamanan di kampus. Banyak yang berpikir bahwa penerimaan secara sosial adalah hal yang paling utama. Kalau diterima baik oleh senior hingga akrab, maka pasti akan mendapat kemudahan untuk memperoleh warisan buku, catatan, bahkan lowongan kerja. Banyak OSPEK yang menggunakan tema keakraban, persatuan dan persahabatan. Ini memang bagus. Manusia membutuhkan satu sama lainnya. Tapi kalau kebablasan dalam OSPEK, mahasiswa bisa jadi malah tidak enakkan dengan temannya sendiri. Mahasiswa jadi malas mengingatkan pada temannya yang melakukan tindakan yang merugikan orang lain karena dia tidak ingin menyakiti kawannya. Bisa jadi ini juga yang menyebabkan korupsi tumbuh subur di Indonesia. Dalam seminar atau presentasi ilmiah, bisa jadi mahasiswa itu enggan mengkritik temannya padahal kritik tersebut berguna bagi perkembangan ilmu.
Tema keakraban dan persatuan dalam OSPEK memang wajar. Ini terkait dengan sejarah OSPEK dan perploncoan yang umurnya ternyata sudah ribuan tahun. Perploncoan lahir dari negeri dimana ilmu dan filsafat barat lahir: Negeri Yunani. Perploncoan dahulu digunakan di kalangan atlet Yunani. Fungsinya untuk meningkatkan rasa persaudaraan sesama olahragawan dan atlet dalam satu tim. Resep ini masih manjur sampai sekarang: setelah diplonco biasanya terbangun rasa kebersamaan yang erat. Bagaimana cara kerjanya? Sederhana saja. Para senior dan pelatih menciptakan kondisi dimana mereka gagal sebagai individual dan berhasil sebagai kelompok. Apapun yang terjadi, kalau kumpulan orang yang diplonco itu belum berpikir untuk bersatu, maka kondisi akan dibuat semakin menekan agar mereka sadar bahwa harus saling percaya pada satu sama lain dan bahu membahu dalam berusaha. Nah, cara ini kemudian diadaptasi oleh kalangan militer untuk membuat angkatan perang yang lebih solid. Resep dasar perploncoan ini sudah lumrah digunakan dalam dunia militer entah sejak kapan hingga saat ini.
Kalau pernah dengar slogan “Hapuskan OSPEK militeristik”, itu karena memang kalangan cendekia pun ketularan untuk menggunakannya di institusi pendidikan. Menurut sejarahnya, perploncoan di dunia pendidikan dipelopori oleh negara-negara Eropa. Ceritanya, usai Perang Dunia I para angkatan perang disekolahkan di perguruan tinggi. Kita tertular dari orang Belanda (makanya ada istilah OSPEK Feodal). Dulu namanya ontgroening, yang artinya “hijau” atau “belum dewasa”. Lalu perlahan berbah nama menjadi MAKET, MAPRAM, POSMA, OS, hingga menjadi OSPEK. Lalu para bekas tentara ini menggunakan perploncoan untuk meningkatkan persaudaraan antar sesama mahasiswa. Mungkin karena balas dendam atau memang tabiat dasar mereka begitu. Kalau dipikir-pikir, atlet dan tentara tidak perlu berpikir terlalu banyak . Jadi, kalau perploncoan tertanya menumpulkan daya kritis mereka itu malah bagus. (Mantan Presiden Soeharto sengaja tidak memberantas perploncoan karena dia tahu bahwa itulah yang membuat para mahasiswa tidak cerdas sehingga tidak memberontak.)
Yang penting bagi atlet dan tentara adalah menjadi kompak, bukan menjadi pintar. Nanti mereka malah kebanyakan mikir daripada bertindak. Apalagi yang namanya tentara. Kata “Korps” diambil dari kata corpus yang artinya “badan”. Yang melakukan pemikiran adalah kepala, bukan badan. Mereka, para korps, diminta untuk tidak berpikir sendiri. Yang melakukan pemikiran adalah para jenderal dan atasan. Badan tinggal bergerak saja. Nah, kalau para mahasiswa sudah menjadi korps di dunia pendidikan, beginilah jadinya. Materi pelajaran cuma dibaca dan tidak dipikirkan mendalam. Teori-teori cuma dihapal dan tidak dikritisi. Padahal mahasiswa adalah pekerjaan berpikir, bukan patuh. Jadilah kita mahasiswa yang hanya bisa menghapal teori. Paling banter menggunakan teori saja. Tapi tidak pernah mengembangkan teori baru. Itulah mengapa negara ini tidak maju-maju karena hanya bisa menerima ilmu dari negeri lain.
Perploncoan memang udah membudaya. Sama dengan korupsi. Kalau dibandingkan dengan OSPEK zaman dahulu kala, kadar perploncoan pada OSPEK masa kini memang sudah jauh berkurang. Ini karena sudah banyak orang yang menjadi sadar karena semakin terbukanya arus informasi. Orang-orang sekarang lebih melek HAM (Hak Azasi Manusia), lebih sadar hukum dan lebih memiliki kesadaran spiritual (terima kasih pada A’a Gym dan gerakan spiritual simpatik lainnya). Akhirnya, orang semakin sadar bahwa perploncoan adalah hal yang buruk atas alasan apa pun. Para pelaku plonco biasanya berpikir bahwa mereka sengaja melakukan kejahatan kecil untuk melakukan kebaikan yang lebih besar. Kejahatan tetap saja kejahatan sekecil apa pun itu. Dan banyak agama yang melarang melakukan kejahatan. Kalaupun ada yang mengizinkan, itu dengan syarat dalam kondisi mendesak. Apakah OSPEK adalah kondisi mendesak? Apakah menciptakan kesan itu sesuatu yang mendesak? Apakah untuk saling mengenal di kampus (yang nantinya akan terjadi juga seiring dengan waktu) adalah mendesak?
Para pelaku plonco kini sudah pintar membuat alasan karena mereka kuliah. Tanyalah kenapa para mahasiswa baru harus mendapat stressing. Para senior (khususnya Tatib) sengaja memperlakukan mahasiswa baru dengan buruk: membentak, memarahi, meremehkan, mempermalukan dan melecehkan harga diri. Tujuannya adalah untuk menimbulkan kesan emosional yang mendalam pada mahasiswa baru. Kesan emosional yang mendalam ini penting sebagai perekat hubungan antara sesama manusia. Orang yang meninggalkan kesan emosional mendalam akan selalu diingat. Begitu juga dengan kesan emosional mendalam yang negatif. Meninggalkan kesan positif memang sulit. Apa lagi kesan positif yang mendalam. Tetapi membuat kesan mendalam negatif sangat mudah. Nah, para senior dan pelaku plonco mengambil jalan pintas ini. Mereka sengaja menimbulkan kesan emosional mendalam yang negatif. Semakin dalam semakin bagus. Selanjutnya, ketika semua kegiatan usai, mereka akan membuka topeng mereka dan mengganti tampang jutek dan seram mereka dengan senyuman biasa. Lalu para mahasiswa akan melihatnya sebagai sesuatu yang berkesan mendalam. "“Wah, ternyata dia adalah orang yang baik”. Batas cinta dan benci itu tipis. Banyak orang yang jatuh cinta kepada orang yang paling dia benci. Saking bencinya, dia selalu memperhatikan dan memikirkan orang tersebut. Lalu ketika ternyata orang tersebut berlaku baik padanya, rasa benci berganti menjadi rasa cinta dengan intensitas yang sama.
Ya, memang setelah itu kita menjadi akrab dengan para pelaku plonco. Kita memiliki kesan emosional positif dan mendalam kepada mereka. Lalu, atas dasar solidaritas, kita pun ikut melakukan praktek perploncoan bersama mereka. Kita menerima argumen pembenaran tindak kekerasan dalam OSPEK. Kita merasa menjadi bagian dari kelompok yang lebih besar, yaitu keluarga sivitas akademika. Tapi coba tanya kenapa. Kenapa harus dengan mereka? Apakah tujuan dari kelompok besar ini? Apakah untuk menyelesaikan permasalahan bangsa? Atau sekedar untuk senang-senang para senior saja? Ingatlah, bangsa kita sedang menghadapi permasalahan yang pelik dan mendesak. Tanya kenapa kita harus mengambil jalan memutar untuk mengatasi permasalahan permasalahan bangsa yang mendesak ini: Busung lapar, kurs dolar, krisis energi, wabah polio, kemiskinan, krisis BBM, naiknya tarif tol, wabah flu burung, masalah integrasi bangsa, kriminalitas, dan banyak lagi. OSPEK masih perlu. Perploncoan-lah yang tidak perlu. Baca tulisan selanjutnya untuk mengenal lebih dalam mengenai perploncoan.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home